Di tengah suara gemericik air sungai yang mulai meninggi dan derak kayu jembatan tua yang nyaris patah, seorang anggota Brimob Polda Sumut tampak melangkah pelan namun pasti. Di dadanya, ia memeluk erat seorang bayi kecil—masih merah, masih rapuh—yang hanya bisa menangis lirih tanpa tahu bahaya apa yang sedang mengintai.
Setiap pijakan di atas jembatan kayu seadanya itu terasa seperti menantang maut. Angin membawa aroma lumpur, kayu basah, dan kecemasan. Namun di balik seragam yang basah oleh hujan, ada keberanian yang tak ikut goyah
(Yuli)