March 11, 2026

JAKARTA | BRN – Sebuah Seminar tentang Prabowonomics yang diselenggarakan oleh lembaga Total Politik di Bandung dan menghadirkan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyoroti perilaku masyarakat sipil yang terkotak-kotak dalam koridor pro dan kontra hingga menjadi saling membenci justru telah menjauh dari kekompakan yang dibutuhkan sebagai persatuan yang memberi ruang waktu kepada Presiden Prabowo untuk memenuhi janji-janjinya kepada rakyat.

Apa yang dikemukakan oleh Dasco sangat mengena dan menjadi umpan balik yang memang sulit dibantah mengingat fakta di ruang medsos khususnya whatsapp group “gado-gado” menyoal politik dan kebijakan pemerintah baik presiden maupun menteri terkait antara yang mendukung, menentang serta yang bersikap netral dimana penggunaan bahasa acapkali terjebak dalam emosional yang tidak lagi pada tempatnya bahkan jauh dari tujuan grup yang dibentuk itu.

Bahasa caci maki, agitasi dan provokasi menjadi fakta yang sulit terbantahkan telah menyulut arus perdebatan atau diskusi menjadi ajang melampiaskan kemarahan berujung menampilkan sikap kebencian yang sudah tidak pada tempatnya antara anggota grup medsos itu. Miris.

Mereka berkonflik sepanjang waktu dalam argumentasi pada berbagai topik yang berbeda, anehnya semakin lama justru terlihat semakin “ke-kanak2an” meskipun mayoritas masyarakat sipil Indonesia tidak semuanya terlibat pada situasi konflik model medsos seperti itu, tetapi mau tidak mau menjadi bagian yang dapat dipengaruhi oleh perilaku yang tidak sehat dalam interaksi yang masing-masing pihak merasa bertujuan baik bagi bangsa dan negaranya.

Dilihat dari tipikal dan latar belakang yang berbeda-beda pada anggota grup medsos dimaksud justru cukup mengejutkan karena ternyata ada mantan juga yang masih bertugas sebagai anggota DPR yang notabene wakil rakyat pada kedua kelompok yang berseteru, ada pengusaha, aktivis sospol, ahli hukum, profesional dan beragam pekerjaan lainnya.

Jadi kembali pada apa yang ditengarai oleh Dasco terkait tidak bersatunya masyarakat sipil dalam memberi ruang bagi kinerja pemerintah untuk memenuhi janji-janjinya, kiranya peranan “admin” sebuah grup menjadi sangat penting untuk menghadirkan metode mempersatukan para anggota dalam perbedaan sebagai sebuah kekuatan untuk menyadarinya dan bukannya malah turut memecah belah suasana moril yang semestinya dikawal sesuai tujuan grup yang bahkan pada tataran tertentu konflik meluas ke ranah pribadi secara berlebihan bahkan fitnahan terkadang muncul.

Patut diakui bahwa memang bukan hanya pada media sosial saja tetapi juga pada banyak forum pertemuan yang membahas arah kebijakan politik, ekonomi dan hukum oleh pemerintah seperti acara seminar “Prabowonomics” ini, dimana sekelompok mahasiswa melakukan aksi protes secara tidak prosedural seminar dimaksud lebih sebagai masalah etika tentang cara berdemokrasi yang tidak elegan.

Bagaimanapun juga harus diakui pentingnya komunikasi terbuka terhadap setiap masalah yang menjadi topik “krusial” ditengah masyarakat sipil melalui berbagai kanal yang justru dibangun secara sehat oleh masyarakat sipil sendiri secara pro aktif untuk menunjukan kedewasaannya dalam beraspirasi dan melihat segala kebijakan pemerintah secara proposional serta tidak mudah menaruh apriori secara berlebihan sebelum segala kebijakan negara terimplementasi sesuai tujuannya…

**Adian Radiatus (pengamat sosial & politik) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *