April 25, 2026

 

 

Oleh : R. Wempy Syamkarya S.H M.H (Pengamat Kebijakan Publik dan Politik)

 

Wartawan sudah uji Kompetensi wartawan Kartu Pers aktif. Tapi pas konfirmasi ke Diskominfo ataupun Humas kementerian, jawabannya cuma read atau nanti ya “Bahkan Surat Tugas resmi pun diabaikan.

 

Ini bukan sekedar etika buruk, ini pelanggaran hukum.

 

1. Mengabaikan Wartawan UKW = Menginjak UU Pers

UU No. 40 Tahun 1999 Pasal 4 ayat 3 tegas : Pers nasional punyahak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan informasi UKW adalah bukti negara mengakui kompetensi wartawan itu.

 

Pasal 18 ayat 1 lebih galak lagi : Setiap orang yang menghalangi tugas jurnalistik dipidana 2 tahun atau denda 500 juta. Menghalangi “itu tafsiranya luas, seperti tidak jawab WhatsApp, tidak angkat telpon, tidak kasih data tanpa alasan sah, termasuk pidana.

 

Jadi kalau Diskominfo ataupun Humas sengaja cuek ke wartawan yang sudah UKW, dia bukan cuma sombong, dia calon Tersangka.

 

2. Kenapa Pejabat Berani Cuek ? 3 Penyakit Birokrasi.

 

Penyakit modusnya Dampaknya

– Mental “Media Titipan”

Cuma layani media yang ada MoU / kerja sama iklan yang kritis dimusuhi. Anggaran publik jadi alat suap halus Pers jadi Humas.

 

– Buta Hukum Pers

Banyak Humas isi jabatan politik, tidak mengerti UU Pers, hanya mikirnya hak saya mau jawab atau engga “Negara bayar Humas tapi malah Langgar UU Keterbukaan Informasi Publik”.

 

– Takut Kebongkar

Instansi bobrok sengaja bungkam, Wartawan yang sudah Kompeten UKW ditakuti karena paham cara investigasi “lapor Dewan Pers, Korupsi aman, transparansi mati.

 

IRONINYA : Diskominfo itu “Corong Pemerintah” Tugasnya ya komunikasi. Kalau corongnya aja mampet ke Pers, gimana mau nyampe ke rakyat?.

 

3. Dampaknya Fatal Buat Demokrasi

 

– Informasi Publik Tersumbat : Rakyat cuma dapat rilis sepihak check & balance mati.

 

– UKW Jadi Macan Ompong : Wartawan bayar mahal ikut UKW, tapi tidak dihargai negara, bikin yang lain males profesional.

 

– Menyuburkan Media Abal – Abal, kalau yang UKW aja di cuekin, pejabat bakal lari ke wartawan amplop yang gampang diatur.

 

4. SOLUSI NENDANG BIAR PEJABAT TIDAK SEMENA MENA.

 

Jangan cuma mengeluh para insan Pers / Wartawan ini jurus biar Diskominfo Humas kapok.

 

Solusi 1 : ” Kartu Kuning Dewan Pers ” – Sanksi Reputasi.

– Lapor ke Dewan Pers

tiap kali dicuekin minta penilaian Ahli.

 

– Dewan Pers wajib rilis daftar Instansi Anti Pers, setiap 3 bulan, bikin malu nasional.

 

– Efek : Eselon II takut karirnya hancur karena masuk blacklist Dewan Pers.

 

Solusi 2 : “PPID 10 Hari Jerat Pakai UU KIP.

 

– Ubah semua pertanyaan jadi

Permintaan Informasi Publik resmi ke PPID.

 

– UU KIP Pasal 22 wajib jawab 10 hari kerja, melalui sengketa ke Komisi Informasi.

 

– Putusan KI = wajib laksana . Kalau pejabat ngeyel, bisa pidana UU KIP Pasal 52.

 

– Efek : Tidak bisa lagi alasan “sibuk” Ada deadline hukum.

 

Solusi 3 : “Lapor Ombudsman” Pidana Maladministrasi Pengabaian wartawan atau Maladministrasi, penundaan berlarut.Lapor ke Ombudsman RI.

 

– Ombudsman bisa panggil & beri Rekomendasi Wajib.

 

– Kalau rekomendasi dicuekin, nama pejabat dikirim ke Presiden dan diumumkan ke publik.

 

– Efek : Jabatan taruhannya.

 

Solusi 4: “Gerakan Tagih Janji Humas”- Tekanan Publik.

 

1. Tag @ kementerian Kominfo @ombudsmanri 137 @dewanpers.

2. Efek : Viral = atasan langsung negur Reputasi instansi hancur.

 

Solusi 5: “Sertifikasi Humas Wajib Paham UU Pers”.

 

Dorong Dewan Pers dan KemenPAN-RB bikin aturan, semua Humas & Pranata Humas wajib ikut Sekolah UU Pers dan KIP, jika tidak lulus copot. Kalau wartawan aja di UKW, masa Humas yang digaji APBN buta hukum ?.

 

PENUTUP : UKW ITU MAHKOTA, BUKAN TISU.

 

Wartawan capek-capek UKW buat jaga maewah profesi, kalau negara via Diskominfo/Humas malah nginjek, berarti Negara sendiri yang melecehkan sistem yang di bikin.

 

Pesan buat Pejabat:

Melayani wartawan UKW itu bukan kebaikan hati, itu perintah UU Nolak sama saja pidana Sesimpel itu.

 

Pesan buat Wartawan UKW :

Jangan mau diem Dokumentasiin semua pengabaian, laporkan Somasi, Pidana, karena kalau kita diem, yang Abal-Abal makin merajalela.

 

Kemerdekaan pers itu diperjuangkan, bukan diminta.

 

(Yuli)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *